skip to Main Content
Menahan Amarah

Menahan Amarah

MENAHAN AMARAH

 

Dalam hal marah manusia mempunyai tiga tingkatan. Pertama, Tidak mempunyai kekuatan sama sekali untuk marah walaupun pada saat yang dibutuhkan, orang yang semacam ini telah kehilangan kekuatan. Seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi’I, “Siapa yang pada saat dibutuhkan untuk marah namun tidak bersikap tegas, maka ia laksana seekor keledai.

Kedua, marah yang terkontrol dan inilah yang ideal, contohnya adalah marah yang pernah ditunjukkan oleh para Sahabat Nabi, sebagaimana dijelaskan dalam ayat AlQur’an :

 

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.

          Ketiga, Marah yang berlebihan, maksudnya adalah kemarahanya melebihi batas toleransi. Kemarahan semacam ini juga sangat tercela. Sebab secara lahiriyah pelakunya berubah menjadi burukdan bathinya lebih buruk lagi.

Karena marah sangatlah berbahaya, sampai-sampai suatu saat ketika Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam didatangi oleh seorang sahabatnya yang meminta untuk dinasehati beliu tiga kali berpesan agar tidak marah. Sebagaimana dalam riwayat sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَة ” أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ : أَوْصِنِي قَالَ : لَا تَغْضَب ، فَرَدَّدَ مِرَارًا ، قَالَ : لَا تَغْضَب “ (رواه الشيخان)

“Dari Sahabat Abi Hurairah RA, sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Nabi : Nasehati Aku, Nabi bersabda : Jangan marah, maka ia mengulangi permintaanya berkali-kali, Nabi bersabda : Jangan marah”. (HR. Bukhori Muslim)

Orang yang kuat dalam ukuran agama bukanlah orang yang hebat ketika bertarung atau gulat dengan mengerahkan segala kekuatan ototnya, akan tetapi orang yang kuat dalam ukuran agama adalah orang mampu menahan amarahnya, sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَة أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ” لَيْسَ الشَّدِيد بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيد الَّذِي يَمْلِك نَفْسه عِنْد الْغَضَب (رواه الشيخان)

“Dari Abu Hurairoh RA, sesungguhnya Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : Bukanlah orang yang kuat dengan bertarung, sesungguhnya kekuatan ada pada orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”. (HR. Bukhori Muslim)

Karenanya menjadi sangat penting bagi kita untuk menjaga amarah kita agar tidak terjadi kecuali pada hal semestinya dan dibenarkan dalam agama. Dengan cara seperti ini kita memohon kepada Allah untuk dikelompokkan dalam golongan yang tidak dimurkai Allah. Amin. Sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَانِ بْنِ جُبَيْرٍ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَاذَا يُبَاعِدُنِي مِنْ غَضَبِ اللهِ ، عَزَّ وَجَلَّ ؟ قَالَ : لاَ تَغْضَبْ (أخرجه أحمد)

“Dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin Umar RA, sesungguhnya ia bertanya kepada Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam : Apa yang menjauhkan aku dari murka Allah Azza Wa Jalla ? Beliau menjawab : Jangan marah”. (HR. Ahmad)

 

Khodimul Ma’had Asshiddiqiyah3 Cilamaya Wetan

Karawang Jawa Barat

This Post Has 0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *