skip to Main Content
KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Abstract

Education is a procces developing of human potential in order to grow proportionately. For that it takes a conducive atmosphere and away from violence. However, until now the case of violence still color the word of education with a different background. Punishment as one of the educational instruments is often implemented beyond the limit of fairness so caught in the act of violence. Punishment of Islamic Education is the last step after several negotiations. The purpose of punishment in Islamic Education is to provide lessons and awarness about truth and error.

Keywords: violence, education

 

Abstrak

Pendidikan adalah proses mengembangkan potensi yang dimiliki manusia agar berkembang secara proporsional. Untuk itu dibutuhkan suasana yang kondusif dan jauh dari kekerasan. Namun, hingga saat ini kasus-kasus kekerasan masih mewarnai dunia pendidikan dengan latar belakang yang berbeda-beda. Hukuman sebagai salah satu instrumen pendidikan, sering dilaksanakan melebihi batas kewajaran sehingga terjebak dalam tindakan kekerasan. Hukuman dalam konteks Pendidikan Islam merupakan langkah paling akhir yang ditempuh setelah melakukan beberapa kali proses negosiasi. Tujuan hukuman dalam Pendidikan Islam adalah memberikan pelajaran dan kesadaran tentang kebenaran dan kesalahan.

Kata kunci: kekerasan, pendidikan

 

 

PENDAHULUAN

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , pendidikan adalah suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.[1]  Sedangkan menurut Undang-Undang Sisdiknas, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[2]

Pendidikan adalah suatu proses belajar- mengajar yang melibatkan dua pihak, yaitu pendidik (guru) dan peserta didik (siswa). Proses pendidikan ini lazim dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah. Untuk itu, semestinya sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi para peserta didik. Namun, dalam menjalani proses pendidikan ini, tidak jarang terjadi pergesekan, baik antara guru dan siswa maupun antara siswa itu sendiri hingga terjebak dalam suatu tindakan yang disebut kekerasan.

Berdasarkan hasil penelitian UNICEF di beberapa daerah di Indonesia pada tahun 2006, 80% kekerasan yang dialami peserta didik dilakukan oleh gurunya sendiri.[3] Hingga tahun 2018 sekarang ini, Indonesia masih menduduki peringkat tertinggi dalam kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Kita masih sering mendengar pemberitaan di berbagai media massa mengenai tindakan-tindakan kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. Bahkan, akhir-akhir ini tindakan kekerasan tersebut tidak hanya dilakukan oleh oknum  guru, akan  tetapi murid pun melakukan tindakan kekerasan terhadap guru hanya karena masalah sepele. Kasus yang masih hangat adalah kasus yang menimpa Ahmad Budi Cahyono, guru honorer pada SMAN 1 Torjun Kabupaten Sampang Madura yang meninggal akibat dianiaya muridnya sendiri  (1/2/2018).

Problematika yang terjadi antara guru dan murid di sekolah, tidak jarang pula menyeret wali murid melakukan tindakan kekerasan terhadap guru yang dianggap bermasalah dengan anaknya. Bahkan, kasus yang paling aktual adalah kasus yang dialami oleh kepala sekolah SMP 4 Lolak, Kabupaten Bolmong Sulawesi Utara, Astri Tampi yang dianiaya oleh orang tua siswa karena tidak terima anaknya dapat surat teguran(13/2/2018).

Kasus demi kasus kekerasan di dunia pendidikan tetap terjadi silih berganti. Hal ini tidak hanya mencoreng wajah dunia pendidikan namun ini sudah layak dikatakan sebagai Tragedi Pendidikan. Maka berdasarkan fakta-fakta tersebut  perlu untuk dikaji: Mengapa kekerasan masih sering terjadi dalam dunia pendidikan? Apakah memberi hukuman identik dengan melakukan tindakan kekerasan? Bagaimana cara memberi hukuman yang baik menurut Pendidikan Islam?

 

PEMBAHASAN

Sebab-sebab Terjadinya kekerasan dalam Dunia Pendidikan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kekerasan didefinisikan sebagai suatu perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau hilangnya nyawa orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.[4] Adapun menurut KUHP pasal 89, kekerasan adalah mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang tidak kecil atau sekuat mungkin, secara tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau menggunakan senjata, menendang atau semacamnya sehingga orang yang terkena tindakan itu merasa sakit yang sangat.

Adapun definisi kekerasan dalam pendidikan adalah hukuman yang dirasa keras bagi siswa sehingga siswa tersebut merasakan sakit. Kekerasan hukuman fisik adalah aplikasi rasa sakit secara fisik yang disengaja sebagai metode pengubah perilaku, seperti memukul, menampar, meninju, menendang dan semacamnya baik dengan alat maupun tangan kosong.

Pola pendidikan yang diterapkan di Indonesia adalah model pendidikan yang terlalu cepat menghukum dan tidak memberi kesempatan pada siswa berbuat salah, sehingga yang terjadi adalah setiap ada siswa yang  melakukan sebuah kesalahan akan langsung ditindak dan diberi hukuman. Tujuan pemberian hukuman itu adalah agar siswa tidak mengulangi kesalahan yang sama sehingga terciptalah kedisiplinan di sekolah.

Dalam paradigma pendidikan tempo dulu, hukuman fisik merupakan salah satu alat pendidikan yang cukup efektif dalam mendisiplinkan siswa. Maka tidak heran jika pada tempo dulu kita terbiasa melihat seorang guru selalu membawa kayu panjang di tangannya. Kayu itu fungsinya sebagai petunjuk sekaligus alat pemukul bagi siswa yang melakukan tindakan pelanggaran selama proses belajar mengajar itu berlangsung.

Setiap hari, sebelum masuk kelas para siswa dibiasakan berbaris di depan kelas mereka dan guru kelas berdiri di depan pintu untuk memeriksa kerapihan baju siswa termasuk kebersihan kuku. Jika kedapatan ada siswa yang kukunya panjang, guru tersebut tidak segan memukulkan penggaris kayu atau petunjuk ke arah jari-jari siswa. Bagi siswa yang terkena hukuman pun tidak protes atau melawan karena menyadari bahwa itu bagian dari proses pembelajaran dan pendidikan.

Berbeda dengan keadaan sekarang, setiap Senin pagi ada saja (bahkan banyak) anak-anak yang dengan sengaja tidak mengikuti upacara bendera atau datang terlambat. Ketika mereka dihukum dengan berbaris di barisan yang terpisah dengan teman-temannya, mereka bersikap biasa saja. Padahal maksud dari hukuman tersebut adalah agar timbul perasaan malu sehingga mereka tidak akan mengulangi perbuatan yang dianggap menentang tata tertib sekolah. Tapi kenyataannya, setiap upacara hari Senin masih saja ada siswa yang dihukum. Hal itu menunjukkan bahwa hukuman itu tidak menimbulkan efek jera bagi pelakunya dan tidak menjadi perhatian bagi siswa lainnya.

Ketika seorang guru mendapati siswa yang sama melakukan kesalahan yang sama berulang kali, sudah dapat diprediksi bahwa guru yang bersangkutan akan menaikkan sanksi atau hukuman terhadap siswa tersebut. Kondisi sikap siswa ketika mendapat hukuman memang berbeda satu sama lain. Ada yang menerima pasrah, adapula yang menentang atau menunjukkan perlawanan sehingga menyulut emosi guru dan terjadilah kekerasan.

Hasil analisa dari beberapa peneliti terhadap kasus-kasus kekerasan yang terjadi dalam ruang lingkup pendidikan, terdapat beberapa faktor yang menjadi pemicu terjadinya kekerasan oleh guru terhadap siswa, antara lain:

  1. Adanya pelanggaran yang disertai dengan hukuman fisik sebagai sanksi. Pemberian sanksi yang melebihi batas atau tidak sesuai dengan kondisi pelanggaran, akan memicu terjadinya kekerasan.
  2. Buruknya sistem dan kebijakan pendidikan yang berlaku. Muatan kurikulum yang hanya mengandalkan aspek kognitif dan mengabaikan aspek afektif menyebabkan berkurangnya proses humanisasi dalam pendidikan.
  3. Pengaruh lingkungan dan media massa. Lingkungan dan media massa yang kian vulgar menayangkan aksi-aksi kekerasan sangat berefek buruk terhadap perilaku masyarakat.
  4. Refleksi dari perkembangan kehidupan masyarakat yang mengalami pergeseran sangat cepat, sehingga meniscayakan timbulnya sikap instant solution atau jalan pintas.
  5. Latar belakang sosio-ekonomi pelaku. Kondisi sosio-ekonomi yang menghimpit seseorang dapat menjadi pemicu orang tersebut melakukan tindakan kekerasan.

 

Adapun faktor yang melatarbelakangi terjadinya tindak kekerasan oleh siswa terhadap guru adalah:[5]

  1. Penghormatan dan penghargaan siswa terhadap guru sudah memudar.

Dahulu guru adalah satu-satunya sumber belajar, sehingga posisi guru sangat dibutuhkan dan dihormati oleh siswa. Sekarang, siswa dapat belajar dari berbagai sumber yang ada seperti koran, majalah, televisi dan media sosial lainnya yang lebih canggih, sehingga menempatkan posisi guru sejajar dengan diri mereka. Akibatnya, siswa berani melawan guru karena rasa hormat terhadap guru sudah tidak ada lagi dalam benak mereka.

  1. Memahami dan menerapkan HAM secara berlebihan dan salah kaprah.

Sejak HAM memasuki ruang kehidupan terutama dalam dunia pendidikan, hukuman tidak bisa lagi diterapkan sebagai media pembelajaran. Tidak jarang hukuman yang diberikan guru dengan maksud mendisiplinkan malah diperkarakan oleh murid di pengadilan. Bahkan, tidak sedikit wali siswa yang lebih berpihak pada anaknya daripada gurunya.

Selain dua faktor di atas, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh siswa, tidak terlepas dari pengaruh faktor-faktor berikut: [6]

  1. Pola Asuh

Anak yang terbiasa dimanjakan oleh orang tuanya, semua keinginannya terpenuhi, akan tumbuh menjadi anak yang arogan dan egois. Mengapa? Karena anak tidak pernah belajar mengelola emosinya, sehingga anak tersebut bisa melakukan apa saja asal tujuannya tercapai. Bahkan, menuntut orang lain melakukan apa yang dia inginkan. Selain itu, anak juga tidak bisa berempati dengan keadaan orang lain, karena dia terbiasa mendapatkan segala hal dengan mudah.

  1. Orang tua mengalami masalah psikologis

Jika orang tua mengalami masalah psikologis yang berlarut-larut, dapat mempengaruhi pola hubungan dengan anak. Misalnya, orang tua yang stress berkepanjangan akan menjadi sensitif, kurang sabar dan mudah marah pada anak. Kondisi seperti ini mempengaruhi perkembangan pada anak. Anak menjadi kehilangan semangat, daya konsentrasi, sensitif, reaktif dan sebagainya.

  1. Keluarga Disfungsional

Keluarga yang sering mengalami konflik terbuka, baik intern maupun dengan keluarga lain secara berkepanjangan, tanpa adanya resolusi akan mempengaruhi energi fisik dan psikis anak, juga interaksi dan komunikasi anak.

 Hukuman vs Kekerasan dalam Dunia Pendidikan

 Pendidikan merupakan suatu motor penggerak bagi perubahan bangsa dan negara, artinya pendidikan mempunyai posisi yang sangat penting bagi peradaban suatu negara. Tanpa adanya pendidikan, suatu negara tidak akan berkembang. Oleh karena itu diperlukan sebuah sistem yang betul-betul bagus untuk menata proses pendidikan yang akan berjalan. Pendidikan harus memiliki rancang bangun bagi terciptanya suatu pembelajaran yang produktif. Juga memiliki pola belajar yang sesuai dengan kodrat sebagai manusia, selain itu harus ada nilai-nilai yang diterima bersama sebagai acuan bagi pelaku pendidikan dalam mengambil segala tindakan di sekolah.

Indonesia menerapkan sistem pendidikan semi disentralisasi, maksudnya adalah separuh disentralisasi dan separuh sentralisasi .[7]  Dalam konsep manajemen sekolah, seluruh kegiatan yang berhubungan dengan sekolah diserahkan sepenuhnya kepada sekolah yang bersangkutan. Akan tetapi dalam sistem evaluasi masih menganut sistem sentralisasi, dimana ujian negara diselenggarakan oleh pemerintah pusat.

Sehubungan dengan manajemen, sekolah-sekolah di Indonesia diberi kebebasan dalam mengatur dan membuat tata tertib bagi siswa-siswanya. Dalam penegakkan tata tertib ini biasanya disertai dengan sanksi yang tujuannya adalah mendisiplinkan siswa. Jadi setiap siswa harus mengetahui dan mematuhi seluruh aturan yang berlaku di sekolah manapun tempat mereka belajar dan harus siap menerima sanksi jika mereka melanggarnya.

Dalam teori belajar (learning theory) yang banyak di anut oleh para behaviorist, hukuman (punishment) adalah suatu cara untuk mengarahkan sebuah tingkah laku agar sesuai dengan yang diharapkan.[8] Jadi hukuman diterapkan manakala muncul sesuatu yang tidak sesuai harapan dan dianggap sebagai pelanggaran. Hukuman merupakan salah satu instrumen atau alat pendidikan yang sifatnya kongkrit dan sangat populer di kalangan masyarakat.

Menurut Elizabeth B. Hurlock, “ Punishment means to inpose a penalty on a person for a fault offense or violation or retaliation”. Hukuman adalah menjatuhkan siksa pada seseorang karena suatu pelanggaran atau kesalahan sebagai ganjaran atau balasannya.[9]

Sedangkan menurut Emile Durkheim, hukuman merupakan suatu cara untuk mencegah berbagai pelanggaran terhadap peraturan. Jadi selain untuk mencegah anak mengulangi kesalahannya, juga untuk mencegah agar anak lain tidak menirunya. [10]  

Adapun dalam istilah psikologi, hukuman adalah cara yang digunakan dalam bentuk pengalaman atau  keadaan yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh seseorang secara sengaja kepada orang lain.  Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hukuman adalah sesuatu yang tidak menyenangkan bagi penerimanya. Oleh karena itu, ide pemberian hukuman ini sempat menjadi kontroversial di kalangan para pakar pendidikan, akan tetapi  sebagian besar dari mereka setuju dengan catatan si pemberi hukuman mengerti tata cara dan aturan mainnya.[11]

Hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijak, bisa menjadi alat motivasi.[12] Hukuman juga akan menghasilkan disiplin, bahkan pada taraf yang lebih tinggi akan mampu menginsyafkan anak didik. Meski begitu, hukuman bukan merupakan langkah utama yang harus dilakukan oleh seorang pendidik dalam upaya memperbaiki tingkah laku siswa, sebab masih banyak alat-alat pendidikan lain yang bisa dipergunakan yang sifatnya positif, seperti pemberian hadiah, pujian, keteladanan dan lain-lain.

Hadiah dan hukuman pada hakekatnya sama-sama memberi motivasi kepada siswa. Jika hadiah memberi motivasi agar siswa tetap bisa mempertahankan prestasinya, sedangkan hukuman memberi motivasi agar siswa tidak mengulangi lagi kesalahannya. Namun, hukuman lebih bersifat “menekan” atau “memaksa”, dengan hukuman diharapkan memberikan efek jera bagi pelakunya sehingga berubah ke arah yang lebih baik.[13]

Secara umum, dapat diambil kesimpulan bahwa adanya hukuman dikarenakan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik, dan tujuannya adalah memberikan edukasi agar peserta didik benar-benar menyadari kesalahannya dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan negatifnya.

Adapun tindakan kekerasan dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang dapat merugikan orang lain, baik secara fisik maupun secara psikis. Istilah kekerasan ini berbeda kontek dengan hukuman fisik. Menurut jack D. Douglas dan Frances Chalut Waksler, seperti yang dikutip oleh Mas’udah, istilah kekerasan (violence) digunakan untuk menggambarkan perilaku yang disertai dengan penggunaan kekuatan kepada orang lain, baik secara terbuka (overt) maupun tertutup (covert), atau bersifat menyerang (offensif) maupun bertahan (defensif). [14]

Adapun beberapa tindakan yang dikategorikan sebagai kekerasan dalam dunia pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi bermacam-macam, sebagaimana yang dinyatakan oleh Assegaf, Abd. Rahman dalam bukunya Pendidikan Tanpa Kekerasan (2008), antara lain sebagai berikut:

  1. Kekerasan fisik; yaitu jenis kekerasan yang terjadi sentuhan fisik antara pelaku dengan korbannya, contoh: menampar, memukul, menonjok, menendang dan sejenisnya.
  2. Kekerasan non-fisik; yaitu jenis kekerasan yang tidak terjadi sentuhan fisik antara pelaku dan korbannya. Kekerasan non-fisik ini dibagi menjadi dua, yaitu:
  3. Kekerasan verbal; yaitu kekerasan yang dilakukan melalui perkataan atau kalimat. Contoh: membentak, memaki, mengumpat, mengancam dan semacamnya.
  4. Kekerasan psikis; yaitu kekerasan yang dilakukan melalui bahasa tubuh. Contoh: menatap dengan melotot, memandang sinis, mempermalukan, mencibir dan semacamnya.
  5. Kekerasan simbolik; yaitu kekerasan yang hanya bersifat simbol, tidak secara nyata, berjalan perlahan akan tetapi implikasinya sangat mengena bagi psikologi anak didik. Contoh: pembagian kelas favorit dan tidak favorit, dimana kelas favorit berisi siswa dari kalangan anak orang kaya, sedangkan kelas tidak favorit dari kalangan anak orang miskin. Pembagian kelas semacam ini sudah banyak dilakukan, namun kita tidak menyadarinya kalau tindakan tersebut termasuk kategori kekerasan.[15]

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa antara hukuman dan kekerasan adalah berbeda. Maka sebagai pendidik harus berhati-hati dan selektif dalam memberi hukuman kepada siswa, jangan sampai terjebak ke dalam tindakan kekerasan. Pilihlah hukuman yang sifatnya edukatif, karena tujuan diberikannya hukuman adalah dalam rangka mengedukasi, bukan untuk menghakimi.

 

Hukuman dalam Perspektif Pendidikan Islam

Belajar mengajar merupakan proses yang sangat penting dalam sebuah pendidikan. Bahkan, tidak jarang hasil akhir dari pendidikan ditentukan oleh keberhasilan proses belajar mengajar ini. Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar atau pendidik.

Dalam hubungannya dengan harkat martabat manusia, pendidik dan peserta didik dituntut untuk mengendalikan diri dalam proses belajar mengajar. Hal ini merupakan perwujudan dari dimensi kemanusiaan yang tidak boleh memperlakukan seseorang dengan semena-mena dalam dalam situasi pendidikan. Setiap individu memiliki hak dan kewajiban dalam menjalankan perannya, baik sebagai pendidik maupun peserta didik.[16]

Guru adalah tokoh yang paling utama dalam membimbing dan mengarahkan siswa-siswanya di sekolah. Oleh sebab itu, hal pertama yang harus diperhatikan seorang guru agar menarik minat siswa adalah menjadi seseorang yang berkesan dan berwibawa. [17]  Sehubungan dengan hal tersebut, guru sebagai tenaga profesional harus mempunyai kode etik baik untuk kepentingan diri sendiri maupun untuk kepentingan yang lebih luas. Keteladanan seorang guru merupakan suatu keniscayaan, untuk itu guru harus dapat bersikap objektif, terbuka akan kritikan serta menghargai pendapat orang lain. Selain itu, guru hendaknya bisa memahami potensi yang ada dalam keberagaman anak didiknya, karena ini adalah wahana layanan profesional yang diembannya.[18] Penerapan etika di lingkungan pendidikan ini akan berpengaruh terhadap kualitas proses pembelajaran, karena seluruh civitas akademika merasakan suasana yang aman, nyaman dan damai.

Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin mengajarkan umatnya untuk selalu mencintai dan menciptakan perdamaian dalam segala aspek kehidupan. Hal ini tercermin dalam al Qur’an surat Ali Imron ayat 159, yang artinya:

“ Maka disebabkan rahmat Allah lah engkau (nabi Muhammad SAW) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Jika seandainya engkau berlaku keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohon ampunlah bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal  (kepadanya).”[19]

 Ayat tersebut turun setelah perang Uhud, sebagaimana kita tahu bahwa  pasukan  muslimin mengalami kekalahan melawan kafir Quraisy karena sikap mereka yang meremehkan dan tidak patuh terhadap komando Rasulullah SAW. Dalam hal ini, wajar sekali jika Rasulullah SAW emosi dan marah dengan sikap pasukannya yang melakukan kesalahan fatal, namun pada peristiwa tersebut Rasulullah SAW tidak menunjukkan kemarahannya, justru Rasulullah SAW dengan sabar menyikapi dan menghadapi umatnya.

Dari ayat 159 QS. Ali Imron tersebut tercermin konsep pendidikan anti kekerasan yang dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran, yaitu a.l:

  1. Berlaku lemah lembut

Sikap lemah lembut perlu dimiliki dan tertanam dalam pribadi setiap guru agar tumbuh rasa senang dan cinta di dalam hati setiap murid. Jika setiap murid merasa disenangkan hatinya berada di sekolah, maka dengan senang hati dia akan mengikuti peraturan sekolah. Dengan sikap guru yang lemah lembut diharapkan akan menghasilkan murid-murid yang juga mempunyai sikap lemah lembut.

  1. Pemaaf

Sifat pemaaf  hendaknya dimiliki oleh setiap orang, baik guru maupun murid. Jika murid bersalah maka guru harus memaafkan, bukan membalas dendam dengan memberikan hukuman atau melakukan tindakan kekerasan. Begitu pula sebagai murid, jika guru bersalah atau kurang berkenan dalam memberikan teguran atas kesalahannya, hendaknya dimaafkan. Dengan begitu, tidak akan terjadi tindakan kekerasan apalagi tragedi yang terjadi di dunia pendidikan.

  1. Bermusyawarah

Di dalam proses pembelajaran, seorang guru harus dapat mengaplikasikan nilai musyawarah dengan bersikap demokratis, terbuka menerima kritik dan saran serta dapat menciptakan hubungan yang dialogis antara guru dan murid. Dengan demikian akan tercipta interaksi dan komunikasi yang baik antara guru dan murid.

  1. Tawakal

Seorang guru memang memiliki peran penting dalam keberhasilan sebuah proses pembelajaran serta pembentukan karakter murid. Akan tetapi, murid juga tidak kalah penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya sebuah proses pembelajaran. Murid bukanlah barang mati yang bisa dibentuk sekehendak hati guru, namun mereka adalah makhluk hidup yang punya emosi dan kemauan bebas. Oleh karena itu, biarkan murid-murid itu mengembangkan segala potensi dan daya kreativitasnya secara aktif. Disinilah guru harus bersikap tawakkal setelah melaksanakan tugasnya secara optimal.

Pendidikan Islam, sebagai salah satu bentuk pendidikan yang berpijak pada fitrah manusia, mengakui potensi positif dan negatif yang dimiliki oleh manusia. Untuk itu dibutuhkan berbagai macam metode agar potensi yang baik dapat dikembangkan dan menjauhkan kecenderungan manusia dari penyimpangan-penyimpangan. Salah satu metode yang dicontohkan adalah pemberian sanksi atau hukuman. Adapun pengertian hukuman dalam Pendidikan Islam ini terdapat beberapa pendapat, diantaranya:

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, hukuman adalah memberi pelajaran baik bagi si pelaku ataupun orang lain, semua itu adalah sebagai cara yang tegas dan tepat untuk memperbaikinya.[20]

Adapun Al Ghazali  seperti yang dikutip Zainuddin,  memberikan pengertian hukuman sebagai suatu perbuatan  seseorang yang secara sadar dan sengaja menjatuhkan nestapa pada orang lain, dengan tujuan untuk memperbaiki atau melindungi dirinya sendiri dari kelemahan jasmani dan rohani, sehingga terhindar dari segala macam pelanggaran. [21]

Jadi dalam Pendidikan Islam, hukuman adalah salah satu cara atau tindakan yang dilakukan oleh seorang pendidik untuk memberikan pelajaran guna memperbaiki kesalahan anak didiknya. Seorang anak yang telah dihukum harus benar-benar menyadari kesalahannya dan mempunyai tekad di dalam hatinya untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Hukuman di dalam Pendidikan Islam bersifat relatif dan kondisional, artinya kesalahan atau pelanggaran yang sama belum tentu mendapat hukuman yang sama pula. Dalam hal ini, pendidik harus berhati-hati dalam menjatuhkan hukuman kepada anak didiknya, dengan menimbang dan membandingkan kesalahan serta akibatnya. Disamping itu, para pendidik harus mendasarkan hukuman yang diberikannya pada cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW seperti dalam hadis berikut:

“ Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “ Suruhlah anak-anakmu melakukan shalat sejak usia 7 tahun dan pukullah jika tidak mau shalat di usia 10 tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka”. (HR. Dawud)[22]

 Dari hadis tersebut, dapat kita analisis bahwa dalam memberikan hukuman kepada seseorang yang bersalah hendaklah dilakukan secara bertahap, pertama, secara lisan atau teguran. Jika dengan teguran belum juga efektif, maka langkah  kedua yaitu diberikan  peringatan. Jika teguran dan peringatan belum mengarahkan seseorang pada tindakan yang diharapkan, maka cara yang terakhir adalah dengan pukulan. Jadi,  pemberian hukuman dengan cara memukul merupakan tahap paling akhir setelah cara-cara negosiasi dilakukan. Tata cara yang tertib ini menunjukkan bahwa pendidik tidak boleh menggunakan metode yang lebih keras, jika metode yang lebih ringan belum dilakukan.

Pemberian hukuman fisik dengan cara pukulan ini berbeda dengan tindakan  kekerasan, karena pukulan  yang dimaksud disini adalah tindakan yang mengenai fisik seseorang namun bukan untuk tujuan menyakiti, akan tetapi bertujuan untuk memberikan rasa jera kepada pelaku sehingga tidak akan lagi melakukan pelanggaran, sekaligus memberikan perhatian kepada pihak lain agar tidak mengikuti perbuatannya.

Disamping itu,  pukulan yang dilakukan seorang pendidik hendaknya dilandasi rasa kasih sayang, bukan karena dendam pribadi, atau dilakukan dalam keadaan emosi yang memuncak.  Pukulan juga hendaknya dilakukan di bagian tubuh yang tidak membahayakan serta tidak memakai alat yang bisa mencederai. Jika kita analogikan, hukuman fisik itu harus seperti garam dalam masakan, porsinya sedikit tapi cukup berpengaruh membuat masakan terasa lezat, bila kebanyakan justru akan merusak rasanya.

 

 PENUTUP

 

Masih banyaknya kasus kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan dikarenakan pendidik kurang berhati-hati dalam menjatuhkan hukuman, terutama hukuman fisik. Hukuman fisik yang dilakukan para pendidik masih dilandasi oleh emosi dan ego pribadi sehingga menimbulkan ketersinggungan dan perasaan dendam serta kebencian di hati anak didik. Disamping itu, telah terjadi pergeseran nilai dan dadasi moral di kalangan remaja, termasuk anak didik kita, sehingga penghormatan dan penghargaan mereka terhadap para pendidik semakin lama semakin luntur dan memudar.

Hukuman dalam dunia pendidikan merupakan sarana edukatif yang berguna untuk mengontrol perilaku anak didik agar sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Meski begitu, pendidik tidak dapat menjatuhkan hukuman secara sembarangan dan seenaknya sendiri. Akan tetapi harus benar-benar menimbang dan membandingkan kesalahan serta akibat yang akan ditimbulkannya. Dengan begitu, hukuman yang dijalankan tidak terjebak dalam tindak kekerasan.

Dalam Pendidikan Islam, hukuman yang diberikan harus melalui proses bertahap, dimulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Hukuman fisik seperti pukulan dilakukan sebagai langkah paling akhir setelah dialog, nasehat dan teguran sudah dilakukan berulang kali. Disamping itu, hukuman dalam Pendidikan Islam harus mempertimbangkan kondisi anak didik dari segi umur, jenis kelamin juga kondisi kejiwaannya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, , dari https://www.kbbi.web.id pada 20 Pebruari 2018 pukul 20.30.

Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 , Bab 1, pasal 1 ayat 1. Dari https://books.google.co.id>books pada 20 Pebruari 2018 pukul 20.35.

Abdullah, Abdurahman Shaleh. 1990. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al Qur’an,  Jakarta : Rineka Cipta

A.M, Sardiman. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar,  Jakarta: Rajawali Pers

______________. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,  Jakarta: Raja Grafindo Persada

Baharudin dan Esa Wahyuni. 2015. Teori Belajar dan Pembelajaran ,  Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Dawud, Abu.  Sunan Abu Dawud, juz I, Suria : Dar al Hadits, tth

Durkeim, Emile. 1990.  Pendidikan Moral : Studi Teori dan Aplikasi Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Erlangga

Hurlock, Elizabeth Bergner. 1978. Child Development, Tokyo: Grawhill, kogakhusa

Mahmud, Amirudin , Hukuman sebagai Alat Pendidikan,  13 September 2016. Dari m.kompasiana.com/amirudinmahmud/hukuman- sebagai-alat-pendidikan, pada 21 Pebruari 2018 pukul 21.00.

Saefullah U. 2012. Psikologi Perkembangan dan Pendidikan, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2012

Shihab, M. Quraish. 2012.  Tafsir al Misbah : Pesan, Kesan dan Keserasian al Qur’an, Vol. 1-15, Jakarta : Lentera Hati

lwan, Abdullah Nashih. 1999. Pendidikan Anak dalam Islam, jilid 2 , Jakarta: Pustaka Amani

Zainuddin dkk. 1991. Seluk Beluk Pendidikan Al Ghazali, Jakarta : Bumi Aksara

https://www. Unicef.org>media_24996  pada 19 pebruari 2018 pukul 20.30.

Blogspot. Com. Kekerasan Anak di Sekolah, 28 Maret 2012. Dari http://yassyanjani.blogspot.com/ kekerasan-anak- di sekolah, pada 21 Pebruari 2018 pukul 21.05.

Sistem Pendidikan dan Problematika Pendidikan di Indonesia 4 Januari 2013 dari https://id.m.wikipedia.org>wiki>Pendi pada 20 Pebruari 2018 pukul.22.00.

Araben, Menghukum Peserta Didik yang Mendidik, 3 Maret 2015 dari  https://sites.google.com/site/menghukum -peserta-didik -yang-mendidik, pada 23 Pebruari 2018 pukul 21.30.

Masudah Education, Kekerasan dalam Dunia Pendidikan, 18 November 2014 dari http://masudaheducation.blogspot.com/kekerasan- dalam-dunia-pendidikan, pada 23 Pebruari 2018 pukul 21.30.

Widiyanto, “Kekerasan” dalam Dunia Pendidikan, 25 Februari 2014 dari http://widiyanto.com/Kekerasan- dalam-dunia-pendidikan, pada 23 Pebruari 2018 pukul 20.30.

 

 


[1]  Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, , dari https://www.kbbi.web.id pada 20 Pebruari 2018 pukul 20.30.

[2] Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 , Bab 1, pasal 1 ayat 1. Dari https://books.google.co.id>books pada 20 Pebruari 2018 pukul 20.35.

 [3] https://www. Unicef.org>media_24996 pada 19 pebruari 2018 pukul 20.30.

[4]  Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, dari https://www.kbbi.web.id pada 20 Pebruari 2018 pukul 20.30.

[5] Amirudin Mahmud, Hukuman sebagai Alat Pendidikan,  13 September 2016. Dari m.kompasiana.com/amirudinmahmud/hukuman- sebagai-alat-pendidikan, pada 21 Pebruari 2018 pukul 21.00.

[6] Blogspot. Com. Kekerasan Anak di Sekolah, 28 Maret 2012. http://yassyanjani.blogspot.com/ kekerasan-anak- di sekolah, pada 21 Pebruari 2018 pukul 21.05.

[7] Sistem Pendidikan dan Problematika Pendidikan di Indonesia 4 Januari 2013 dari https://id.m.wikipedia.org>wiki>Pendi pada 20 Pebruari 2018 pukul.22.00.

[8] Prof. Dr. H. Baharudin, M. Pd.I dan Dr. Esa Wahyuni, M. Pd, Teori Belajar dan Pembelajaran ,   ( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015), hlm. 110

[9] Elizabeth Bergner Hurlock, Child Development (Tokyo: Grawhill, kogakhusa, 1978), hlm. 396

[10] Emile Durkeim, Pendidikan Moral : Studi Teori dan Aplikasi Sosiologi Pendidikan ( Jakarta: Erlangga, 1990), hlm. 116

[11] Dr. Abdurahman Shaleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al Qur’an ( Jakarta : Rineka Cipta, 1990), hlm. 223

[12] Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar ( Jakarta: Rajawali Pers, 1990) hlm.93

[13] Araben, Menghukum Peserta Didik yang Mendidik, 3 Maret 2015 dari  https://sites.google.com/site/menghukum -peserta-didik -yang-mendidik, pada 23 Pebruari 2018 pukul 21.30.

 

[14] Masudah Education, Kekerasan dalam Dunia Pendidikan, 18 November 2014 dari http://masudaheducation.blogspot.com/kekerasan- dalam-dunia-pendidikan, pada 23 Pebruari 2018 pukul 21.30.

[15] Widiyanto, “Kekerasan” dalam Dunia Pendidikan, 25 Februari 2014 dari http://widiyanto.com/Kekerasan- dalam-dunia-pendidikan, pada 23 Pebruari 2018 pukul 20.30.

[16] Dr. KH.U. Saefullah, M.M.Pd, Psikologi Perkembangan dan Pendidikan, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2012) hlm. 107

[17] Dr. KH.U. Saefullah, M.M.Pd, Psikologi …hlm.152

[18] Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006) hlm.149

[19] M. Quraish Shihab, Tafsir al Misbah : Pesan, Kesan dan Keserasian al Qur’an, Vol. 1-15, (Jakarta : Lentera Hati, 2012), hlm. 540

[20] Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, jilid 2 (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), hlm.808-311

[21] Zainuddin dkk, Seluk Beluk Pendidikan Al Ghazali, (Jakarta : Bumi Aksara, 1991), hlm. 86

[22] Abu Dawud,  Sunan Abu Dawud, juz I (Suria : Dar al Hadits, tth) hlm. 179

 

[14] Masudah Education, Kekerasan dalam Dunia Pendidikan, 18 November 2014 dari http://masudaheducation.blogspot.com/kekerasan- dalam-dunia-pendidikan, pada 23 Pebruari 2018 pukul 21.30.

[15] Widiyanto, “Kekerasan” dalam Dunia Pendidikan, 25 Februari 2014 dari http://widiyanto.com/Kekerasan- dalam-dunia-pendidikan, pada 23 Pebruari 2018 pukul 20.30.

[16] Dr. KH.U. Saefullah, M.M.Pd, Psikologi Perkembangan dan Pendidikan, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2012) hlm. 107

[17] Dr. KH.U. Saefullah, M.M.Pd, Psikologi …hlm.152

[18] Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006) hlm.149

[19] M. Quraish Shihab, Tafsir al Misbah : Pesan, Kesan dan Keserasian al Qur’an, Vol. 1-15, (Jakarta : Lentera Hati, 2012), hlm. 540

[20] Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, jilid 2 (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), hlm.808-311

[21] Zainuddin dkk, Seluk Beluk Pendidikan Al Ghazali, (Jakarta : Bumi Aksara, 1991), hlm. 86

[22] Abu Dawud,  Sunan Abu Dawud, juz I (Suria : Dar al Hadits, tth) hlm. 179

This Post Has 0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *