STAIAS 1
STAIAS 2
STAIAS 3
STAIAS_5
11032012003
MILAD 1
MILAD 13
MILAD 15
gedung stai 1
logo stai ashd baru 2

Berita

Tantangan Ulama dan Cendekiawan Muslim

Mendesak, Pembuatan Tafisr Alquran untuk Pendidikan

   BANDUNG, (PRLM).- Kalangan ulama dan cendekiawan Muslim ditantang untuk lebih   mengembangkan tafsir Alquran yang lebih fungsional sehingga bisa menjawab      tantangan zaman. Tafsir Alquran tidak hanya didekati dengan kajian bahasa dan  sastra, namun juga dari aspek korelasi dalam pengalaman kehidupan sehari-hari.

 “Alquran merupakan kitab petunjuk umat manusia sehingga penafsirannya harus  berkembang disesuaikan dengan kondisi kehidupan masa kini,” kata Asisten Direktur  Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (UGD), Prof. Dr. H.  Nur Wajah, dalam seminar internasional “"Islam Berkemajuan, Capaian, Tantangan, dan Strategi ke Depan" di Hotel Bali World, Rabu (30/10/2013).

 

 

Mneurut Wajah, salah satu tantangan adalah mengembangkan tafsir Alquran At Tarbawi yang menyangkut aspek pendidikan. “Apabila Alquran didekati dengan tafsir At Tarbawy akan memberikan sumbangan besar terbentuknya tafsir teologi pendidikan bahkan fikih pendidikan serta ilmu-ilmu lain yang terkait dengan pendidikan,” katanya dalam seminar bekerja sama dengan Universitas Malaya, Malaysia, berlangsung sampai Kamis (31/10/2013).

Dia merujuk pendapat dari pembaharu Islam asal Mesir, Muhammad Abduh, yang menyatakan ketertinggalan kaum Muslimin akibat kurang relevan antara pemahaman Alquran dengan kenyataan keseharian. “Abduh menyarankan agar pemahaman Alquran harus fungsional dalam kerangka pembangunan masyarakat di berbagai bidang,” tambahnya.

Menurut Nur Wajah, corak tafsir At Tarbawy adalah ingin mendapatkankejelasan dan tuuan dari pendidikan mulai dari pendidik, peserta didik, metode pendidikan, dan lain-lain. “Tentu dalam membuat tafsir At Tarbawy ini membutuhkan ilmu-ilmu utama seperti ilmu Alquran, hadis, sejarah turunnya ayat Alquran maupun sejarah hadis, dan lain-lain. Ilmu lainnya sebagai pembantu juga dibutuhkan di antaranya filsafat pendidikan, psikologi pendidikan, antropologi pendidikan, dan sosiologi pendidikan,” ujarnya.

Namun, Nur Wajah menekankan pentingnya sikap keteladanan dari seorang mufassir (penafsir) Alquran selain memiliki kemampuan dalam keilmuan. “Kualifikasi sikap seorang mufassir terbentuk dari dua hal yakni keilmuan dan kerohanian. Seorang mufassir berupaya selalu mendahulukan dan menempatkan Alquran sebagai rujukan utama dan pertama,” katanya.

Mufassir yang memiliki keahlian dalam filsafat pendidikan, kata Nur Wajah, bisa saja malah mengutamakan ilmu filsafat dan mengesampingkan Alquran. “Kalau hal ini terjadi, maka yang muncul seperti sekarang ini ketika dunia pendidikan malah menjauh dari nilai-nilai Alquran,” ucapnya.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Malaya, Dato MY Zulkifli bin Mohammad Yusoff mengatakan, ajaran Islam membangun masalah fisik dan syahsiyah (politik kenegaraan). “Alquran amat menekankan pembangunan sebuah kaum atau bangsa bahkan Islam memacu Muslimin agar mencapai kemajuan menyaingi bangsa-bangsa lainnya,” katanya.(Sumber:Pikiran Rakyat online, Rabu, 30/10/2013 - 16:57)