STAIAS 1
STAIAS 2
STAIAS 3
STAIAS_5
11032012003
MILAD 1
MILAD 13
MILAD 15
gedung stai 1
logo stai ashd baru 2
Print

Ziarah kota Makkah

Posted in Artikel

ZIARAH KOTA MAKKAH

Oleh : KH. Hasan Nuri Hidayatullah

(Khodimul Ma’had Asshiddiqiyah 3, 4, dan 5 Karawang)

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah memanggil kita untuk datang ke kota suci Makkah dalam rangka menunaikan rukun Islam yang ke-5.

Sholawat dalam salam semoga senantiasa tercurahkan keharibaan junjungan kita nabi Besar Muhammad Shollallahu alaihi Wasallam. Nabi yang menjadi wasilah datangnya zaman yang terang benerang dengan sinar hidayah dan ilmu Allah Ta’ala.

Harapan kita semua mudah-mudahan kita semua masuk dalam golongan orang-orang yang mendapat syafaatnya di hari Qiyamat nanti Amin Ya Robbal Alamin.

 

 

Kita memohon kepada Allah Ta’ala dengan kita mengenal kota sucinya mudah-mudahan Allah Ta’ala akan senantiasa memberikan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua dalam hidup dan setelah mati kita bahkan sampai di akherat kelak. Amien.

 

SEJARAH PEMBANGUNAN KA’BAH

Ka’bah dibangun dalam duabelas tahap yaitu :

  1. 1.Oleh Malaikat.
  2. 2.Nabi Adam AS.
  3. 3.Nabi Syits AS.
  4. 4.Nabi Ibrahim AS.
  5. 5.Al’amaliqoh
  6. 6.Suku Jurhum
  7. 7.Qushoy bin Kilab
  8. 8.Suku Quaisy.
  9. 9.Abdullah bin Azzubair
  10. 10.Alhajjaj bin yusuf
  11. 11.Atstsaqofiyyu
  12. 12.Sulton Murod.

 

Akan tetapi yang disebutkan dalam Al-qur’an dengan jelas mengenai pembangunan kembali Ka’bah adalah yang dilakukan oleh nabi Ibrahim AS. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-baqoroh ayat  127 :

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (البقرة 127)

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

Pembangunan yang dilakukan oleh nabi ibrahim AS dengan mengambil batu dari lima  gunung, yaitu  :

1. Gunung Turi Saina’

2. turi zaita’

3. Lubnan (gunung yang ada dinegri Syam

4. Aljuudiyy

5. Hira’    

 

Proses yang dilakukan adalah para malaikat yang mengambil batu-batu dari gunung-gunung tersebut, nabi Ismail yang menyerahkan dan nabi Ibrahim AS yang menata dengan tanah liat sebagai perekat.

 

Awalnya Ka’bah hanya dibangun oleh beliau dengan dua rukun yaitu hajar Aswad dan Yamani, sementara disisi hijir Isma’il dibangun oleh beliau dalam bentuk setengah lingkaran.

 

Sedangkan pembangunan yang dilakukan oleh suku Quraisy pada 5 tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam sebagai Rosul, tepatnya ketika umur beliau 35 tahun.

 

Mereka mengurangi ukuran Ka’bah dari arah hajar Aswad sebanya 6 dziro’ 1 Syibr karena terbatasnya dana yang mereka kumpulkan dari harta yang halal. Mereka meninggika posisi pintu Ka’bah dari tanah guna dan membatasi dengan dinding batu agar terhindar dari air jika terjadi banjir.

 

Awalnya bangunan Ka’bah tidak ada atapnya, kemudian mereka orang-orang Quraisy meninggikan dindingnya setinggi 18 Dziro’ dan memberinya atap. Awal mula penyebab orang-orang Quraisy membangun Ka’bah adalah karena adanya seorang wanita yang sedang menyalakan arang didekat ka’bah kemudian baranya mengenai Kiswah Ka’bah dan terbakar sehinga seluruh bagian Ka’bah menjadi hitam dan sebagian besar menjadi rusak.

 

Sedangankan Abdullah bin Azzubair membangun Ka’bah karena :

pertama sebabnya adalah ketika terjadi peperangan pada masa khalifah Yazid bin Mu’awiyah.

Ketika penduduk Makkah tidak setuju dengan kekhalifahan Yazid mereka diserang leh pasukan yazid, kemudian Abdullah bin Azzubair sebagai walikoa Makkah memerintahkan pasukan unuk mendirikan tenda disekitar Ka’bah dan menjaga Baitullah. Ternyata yang terjadi justru peluru-peluru yang dilemparkan oleh tembakan pasukan Yazid banyak yang mengenai Ka’bah sehinga rusak.

 

Kedua, pada masa yang sama ada seorang yang menyalakan api di perkemahan dekat Ka’bah tersebut, karena ketika itu angin sangat kencang kemudian api merembet dan membakar kiswah Ka’bah.

Adapun yang dilakukan oleh Hajjaj bin Yusuf bukanlah membangun dalam arti sebenarnya, akan tetapi hanyalah merubah bagian-baian tertentu dan memperbaiki baian-bagian yang rusak dan memerlukan perbaikan.

 

BAGIAN-BAGIAN DARI KA’BAH

Pertama, Ka’bah berarti kubus, maksudnya adalah bangunan yang berbentuk kubus dan di lubangi baian dalamnya karena dulu digunakan sebagai gudang untuk menyimpan hadiah-hadiah agar aman dari para pencuri dan perampok.

 

Pada masa Nabi Ibrahim ukuran Ka’bah 9 dziro’. Pada masa suku Quraisy diperlebar menjadi 18 Dziro’. Sedangkan pada masa Abdullah bin Azzubair diperlebar lagi menjadi 27 Dziro’.

 

Kedua, Penutup bangunan Ka’bah adalah kiswah yang dilakukan stiap hari Asyura’ sampai pada masa kepmimpinan suku bani Hasyim, sedangkan bani Hasyim melakukanya pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah) dan berlaku sampai sekarang.

 

Orang yang pertama kali menutupi Ka’bah dengan kiswah adalah bernama “Tub-ba’ ” berdasarkan hadits nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang driwayatkan oleh Al-Arzaqiy :

عن النبي صلى الله عليه وسلم : أَنَّهُ نَهَى عَنْ سَبِّ تُبَّعٍ ِلأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ كَسَا الْكَعْبَةَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ

“Sesunguhnya nabi melarang untuk mencela Tubba’, karena dia adalah orang yang pertama kali menutup Ka’bah pada masa Jahiliah”.

Pendapat lain ada yang mengatakan bahwa yang menutup Ka’bah pertama kali adalah nabi Ismail Alaihi Salam.

 

Ketiga, Khidmah atau pengabdian kepada Ka’bah disebut dengan Hajabah, sedangkan para pengabdi orangnya disebut dengan Sadanatul ka’bah. Mereka adalah orang-orang yag khusus yang telah diperintahkan oleh Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam haditsnya :

خُذُوْاهَا خَالِدَةً تَالِدَةً لاَيَنْزِعُهَا مِنْكُمْ إِلاَّ ظَالِمٌ

“Ambillah oleh kalian (pengabdian) pada Ka’bah dengan kekal dan turun temurun, tidaklah mengambilnya dari kalian kecuali orang yang dholim”.

Orang-orang tersebut sampai sekarang dikenal dengan sebutan bani Syaibah.

 

Keempat, Nama-nama Ka’bah ada banyak antara lain Baitul Atiq, Albaitul Haram, al Bunyah, Bunyatu Ibrahim, AlQiblah, Al Hamsa’, Albaitul Ma’mur ( menurut salah satu pendapat tentang tafsir dari ayat 4 Surat Atthur Wal Baitul Ma’mur).

 

Kelima, Syadzarwan adalah batu yang ada pada bagian bawah dinding Ka’bah seperti pondasi, dan ini hanya ada pada tiga sisi ka’bah saja, karena syadzarwan tidak ada pada dinding Ka’bah yang disisi Hijir Ismail.

Imam Syafi’I dan imam Maliki berpendapat bahwa Syadzarwan adalah bagian daripada ka’bah sedangkan imam Abu Hanifah berpendapat tidak.

 

HAJAR ASWAD

Hajar Aswad adalah batu yang diletakkan oleh nabi Ibrahim AS dipojok Ka’bah bagian timur. Dan nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallm adalah yang terakhir kali meletakkan posisi Hajar Aswad setelah Ka’bah diprbaiki oleh orang-orang Quraisy.

 

Hajar aswad bukanlah jenis batu biasa seperti yang sering kita lihat, akan tetapi dia adalah batu yang langsung dibawa oleh malaikat Jibril didatangkan langsung dari surga untuk nabi Ibrahim Alaihi Salam ketika sedang membangun Ka’bah. Ini adalah berita yang benar dan tidak ada unsur kebohongan sedikitpun didalamnya, karena Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ الرُّكْنَ وَالْمَقَامَ يَاقُوْتَتَانِ مِنْ يَوَاقِيْتِ الْجَنَّةِ (رواه الترمذي وأمد والحاكم وابن حبان وصحّحه)

“Sesunguhnya Rukun dan Maqom (Ibrahim) adalah dua batuan dari batuan-batuan surga”. (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim dan Ibnu Hibban mengatakan shohihnya)

Yang dimaksudkan rukun dalam hadits ini adalah Hajar Aswad. Dalam hadits yang lain disebutkan :

اَلْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنْ حِجَارَةِ الْجَنَّةِ (رواه الطبرني)

“Hajar Aswad adalah dari batuan surga”. (HR. Thabrani)

Sayyidina Abdullah Ibnu Abbas berkata : Bahwa Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ (رواه الترمذي)

“Hajar Aswad turun dari surga”.(HR. Tirmidzi)

الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنّةِ (رواه النسائي)

Hajar Aswad dari surga  (HR. Nasa’i)

 

Warna Hajar Aswad

Adapun warna Hajar Aswad pada masa dulu adalah putih, perbedaan pendapat terjadi hanya pada sifat putihnya saja. Pendapat tersebut antara lain :

  1. Putih seperti salju (Imam Ahmad)
  2. Putih seperti perak (Imam Azraqiy)
  3. Lebih putih dari susu (Imam tirmidzi)
  4. Seperti sapi putih (Imam thabrani)

 

Ketika kita tahu bahwa batu ini dulunya berwarna putih mungkin kita menjadi bertanya kenapa sekarang berwarna hitam ?

Jawabnya adalah kesalahan dan dosa bani Adam lah yang menghitamkan batu tersebut. Jelas dalam hadits riwayat imam Tirmidzi menyebutkan bahwa :

أَنَّ خَطَايَا بَنِي آدَمَ هِيَ الَّتِي سَوَّدَتْهُ (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya kesalahan Bani Adam Menghitamkanya”.(HR. Tirmidzi)  

 

Keistimewaan Hajar Aswad

Ada beberapa keistimewaan yang dimiliki Hajar Aswad antara lain :

  1. Disunnahkan mencium dan mencucapkan salam padanya.
  2. Dia terletak pada bagian ka’bah yang paling mulya yaitu Sudut timur.
  3. Terletak pada tempat dimulainya ibadah Thawaf.
  4. Orang yang melambaikan tangan mengucapkan salam sama dengan menyalami Allah.
  5. Mempunyai sinar yang sangat kuat.
  6. Akan menjadi saksi bagi orang yang salam kepadanya dengan benar.
  7. Akan bisa memberi syafaat nanti hari Qiyamat.
  8. Dibumi sama dengan sumpah Allah.

 

Keutamaan salam pada rukun Yamani

Keutamaan rukun yamani yang paling agung adalah mengusap dan mengucapkan salam pada rukun tersebut, karena demikianlah yang dilakukan Rosulullah Shallallahu alaihi Wasallam. Bahkan imam Abu Dawud meriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَيَدَعَ أَنْ يَسْتَلِمَ الرُّكْنَ الْيَمَانِي وَالْحَجَرَ فِي كُلِّ طَوَافِهِ (أخرجه النسائي)

“Dulu Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkan, mengusap Rukun Yamani dalam setiap Thawaf beliau”.(HR. Nasa’i)

 

Sayyidina Abdullah bin Umar RA mengatakan bahwa berada pada rukun Yamani ada dua malaikat yang mengamini do’a setiap orang yang berdo’a melewatinya, dan sesungguhnya pada hajar Aswad terdapat Jumlah malaikat yang tidak terhitung.

 

Multazam

Multazam adalah terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah Sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Abdullah Ibnu Abbas RA. Tempat ini mempunyai keutamaan yang besar dan bagian dari pada tempat-tempat yang mustajabah. Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah menempelkan wajah, dada kedua telapak tanganya ke multazam.

 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan secara Musalsal bahwa Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

الْمُلتَزَمُ مَوْضِعٌ يُسْتَجَابُ فِيْهِ الدُّعَاءُ مَا دَعَا اللهُ فِيْهِ عَبْدٌ دَعْوَةً إِلاَّ اسْتَجَابَهَا

“Multazam adalah tempat yang di ijabahkan suatu do’a, tidaklah berdo’a kepada Allah seorang hamba di multazam akan suatu do’a kecuali dikabulkannya do’a tersebut”.

  

Keutamaan melihat Ka’bah

Melihat ka’bah adalah merupakan ibadah yang mempunyai keutamaan besar, Bahkan Sayyidatina A’isyah RA meriwayatkan sebuah hadits :

 النَّظْرُ إِلَى الْكَعْبَةِ عِبَادَةٌ (رواه أبو الشيخ)

“Melihat pada Ka’bah adalah Ibadah”. (HR. Abu Syeikh)

Demikian juga halnya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

يَنْزِلُ عَلَى هَذَا الْبَيْتِ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ عِشْرُوْنَ وَمِائَةُ رَحْمَةٍ سِتُّوْنَ مِنْهَا للِطَّائِفِيْنَ بِالْبَيْتِ وَأَرْبَعُوْنَ لِلعَاكِفِيْنَ حَوْلَ الْبَيْتِ وَعِشْرُوْنَ لِلنَّاظِرِيْنَ إِلَى الْبَيْتِ (أخرجه أبو ذر والأزرقي)

 

“Turun pada rumah ini pada setiap hari dan malam seratus duapuluh rahmat, Enampuluh  diantaranya untuk orang-orang yang thowaf, empat puluh diantaranya untuk orang yang I’tikaf di masjid ini dan duapuluh diantaranya adalah untuk orang yang melihat pada Ka’bah”.(HR. Abu Dzar dan Azroqi)

 

Kekhususan-kekhususan Ka’bah

Pertama, Haram bagi orang yang buang air untuk menghadap dan membelakangi Ka’bah apabila hal ini dilakukan di tempat terbuka seperti Shokhro’ dan tidak ada satir yang menutupinya.

Kedua, Ka’bah boleh ditutup dengan menggunakan sutra. Sebagaimana pendapat Imam Ghozali yang mengatakan bahwa : Menghiasi Mushaf dan ka’bah dengan menggunakan emas dan sutra tidak haram hukumnya selama tidak ada unsur Isrof atau berlebihan.

 

Ketiga, Disunnahkan untuk memberikan wangi-wangian pada Ka’bah, Menurut Sayyidatina Aisyah RA hal ini merupakan bagian dari mensucikanya, sebagaimana yang diperintahkan Allah Ta’ala dalam Al-qur’an surat Alhajj ayat 27 “Wa Thoh-hir Baitiya”.

 

Keempat, Barang siapa yang melihat Ka’bah dalam mimpi berarti dia telah melihat suatu hal yang nyata, Sebagaimana dalam hadits Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

عن أبي سعيد الحدري رضي الله عنه : مَنْ رَآنِي فِي مَنَامِهِ فَقَدْ رَآنِي فِإنَّ  الشّْيطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِي وَلاَ بِالْكَعْبَةِ 

Dari Abi Said Alhudri RA : “Barang siapa yang melihat aku dalam mimpinya sesungguhnya dia telah melihat aku, Karena Syetan tidak bias menyerupai aku dan juga Ka’bah”.

 

Kelima, Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Ka’bah adalah Baitul Ma’mur, maksudnya adalah ma’mur dengan orang-orang yang selalu thowaf di sekelilingnya.

Pendapat lain mengatakan bahwa Baitul Ma’mur adalah rumah yang pertama kali dibangun oleh Nabi Adam Alaihi Salam ketika pertama kali beliau turun ke bumi kemudian diangkat oleh Allah Ta’ala ke langit pada waktu datangnya Tufan zaman nabi Nuh AS.

 

Keenam, Orang yang melakukan Thowaf di Ka’bah mendapatkan pahala yang sangat besar dari Allah Ta’ala, Imam Abu Dzar mengeluarkan hadits yang diriwayatkan dari sayyidina Abdullah Ibnu Umar RA, bahwa Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallaam bersabda :

مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ سَبْعًا وَصَلَّى خَلْفَ الْمَقَامِ رَكْعَتَيْنِ وَشَرِبَ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ غُفِرَتْ لَهُ ذُنُُوْبُهُ كُلُّهَا بَالِغَةً مَا بَلَغَتْ (أخرجه ابو سعيد الجندي)

“barang siapa yang Thowaf di Ka’bah tujuh kali kemudian sholat di belakang Maqom Ibrahim dan minum air Zamzam Diampuni dosanya semua sebesar apapun adanya”. (HR. Abu Said Al Jundi)

 

Keutamaan melakukan Thowaf di Ka’bah

Sangat banyak sekali hadits-hadits Nabi yang menerangkan tentang keutamaan thowaf di Ka’bah, dan sangat banyak apabila disebutkan dalam buku yang sangat ringkas ini. Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

كان احب الأعمال إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قدم مكة الطواف بالبيت (اخرجه ابو ذر)

Ada amal yang paling dicintai oleh Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika datang ke Makkah adalah Thowaf di Baitullah (Ka’bah)”. (HR. Abu Dzarr)

 

Sangat baik untuk dilakukan karena hal inilah yang dicintai oleh Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, dan setiap perkara yang dicintai Nabi kita yakini pastilah hal tersebut baik, mulya dan mempunyai keutamaan yang besar dalam agama. Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

من طاف سبعا فهو كعتق رقبة (أخرجه النسائي)

“Barang siapa yang melakukan thowaf tujuh kali, maka dia seperti memerdekakan budak”. (HR. Nasa’I)

 

Diriwayatkan oleh Amr bin Dinar Al-Makki beliau berkata bahwa : Sesungguhnya Allah jika hendak memerintahkan Malaikat untuk sebagian urusan di dunia, Malaikat tersebut minta izin kepada Allah Ta’ala untuk melakukan thowaf di Baitullah yang mulya kemudian trun secara berlahan (Diriwayatkan oleh imam Arzaqi).

 

Demikian sangat singkat kita tuliskan mengenai Ka’bah dan segala keutamaannya dalam agama sesuai dengan apa yang telah datang dari Allah Ta’ala dan Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

 


MASJID AL-HARAM DI DALAM AL-QUR’AN

Lafadz Masjidil Haram disebutkan dalam Al-qur’an 15 kali, (6 dalam surat Al-Baqoroh, 3 dalam surat Attaubah, 1 dalam surat Bani Isroil, 2 dalam surat Al-fath).

 

Menurut imam Mawardi dalam kitabnya “Al-hawi” bahwa semua lafadz masjidil Haram maksudnya adalah Haram Makkah kecuali firman Allah Ta’ala “fawalli Wajhaka Syatrol Masjidil Haram”. (Al-Baqoroh 149).

Sementara imam Ibnu Abi Shoif al-Yamani beliau berpendapat bahwa : Lafadz Masjidil Haram dalam Al-qur’an mempunyai beberapa arti sebagai berikut :

  1. Berarti Ka’bah, “fawalli Wajhaka Syatrol Masjidil haram”. (Al-baqoroh 149)
  2. Berarti kota Makkah, “Subhanalladzi Asro Bi’abdihi laila”. (Al-Isro’ 1)karena dalam riwayat disebutkan bahwa Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berangkat Isro’ dan Mi’roj dari rumah Ummi Hani’ binti Abi Tholib.
  3. Berarti kota haram, “fala yaqrobu Al-masjidil harama” (Attaubah ayat 28)

عن عطاء : النّظْرُ إِلَى البَيْتِ يَعْدِلُ عِبَادَةُ سَنَةٍ قِيَامُهَا وَرُكُوْعُهَا وَسُجُودُهَا

 

وعن سعيد ابن المسيب رضي الله عنه : مَنْ نَظَرَ إِلَى الْكَعْبَةِ إِيْمَانًا وَتَصْدِيْقًا خَرَجَ مِنَ الْخَطَايَا كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ .

 

عن ابن عباس رضي الله عنهما : النَّظْرُ إِلَى الْكَعْبَةِ مَحْضُ الإِيْمَانِ .

 

Sejarah masjidil haram

 

Awal mula masjid Al-haram mulai zaman Nabi Ibrahim dan nabi Isma’il Alaihima Assalam hanyalah Ka’bah dan halaman yang belum ada tembok-temboknya sampai pada masa Qushoi bin Kilab salah satu kakeknya nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam yang ke-4.

 

Kemudian suku Quraisy

membangun tembok-tembok dan pintu-pintu kea rah Ka’bah Al-Musyarrofah, sementara disisikan secukupnya untuk orang-orang yang melakukan thowaf. Kemudian setiap nama-nama suku yang ada di Makkah ditulis namanya dan digantungkan disekitar dinding Masjid. Sehingga ketika suku semakin banyak berkembang dan turun temurun menjadi penuh dindingnya dengan nama-nama tersbut sampai masanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.